Optimalisasi peran perempuan dalam ranah politik dan pembangunan bangsa Indonesia
Oleh: Muhammad Kokodi Abrar Aktivis HMI
Habaretam.com, Yogyakarta – Normalisasi pernyataan “Perempuan tidak dapat memimpin dan berperan dalam pembangunan. bangsa Indonesia. Karena perempuan sebagai individu yang dikuasai oleh emosinya saat siklus menstruasi”. Hal ini menjadi salah satu alasan masih adanya perspektif negatif terhadap perempuan, memandang perempuan tidak memiliki kapabilitas dalam memimpin dan akan lebih baik menjadi ibu rumah tangga yang bekerja di rumah menjaga anak, memasak, dan membersihkan. Memandang pendapat perempuan tidak penting, melihat perempuan sebagai individu yang lemah. Hal ini menjadi salah satuh penyebab individu cenderung underestimate terhadap perempuan dalam ranah politik.
Padahal politik sebagai salah satu upaya dalam mencapai tujuan bangsa Indonesia, sehingga perlu memiliki berbagai perspektif warga masyarakat Indonesia, laki-laki ataupun perempuan. agar dapat mencapai kesejahteraan yang menyeluruh dan menjangkau seluruh elemen masyarakat
Dalam buku The Noise karya Daniel Kahneman menjelaskan bahwa perempuan adalah individu yang paling rasional dan paling sukses sebagai pembisnis. Hal tersebut juga diperkuat oleh bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bagaimana banyaknya para pemimpin perempuan yang sukses dalam menciptakan perubahan sosial yang lebih adaptif hingga saat ini, misalnya R.A Kartini dalam gerakannya memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi perempuan, Najwa Shihab yang merepresentasikan dirinya sebagai perempuan yang cerdas dan berani untuk menyampaikan gagasannya. Sehingga dengan hal tersebut dapat membantah pernyataan tentang perempuan tidak. dapat menjadi pemimpin yang memiliki kapabilitas dalam merespon berbagai perubahan sosial dengan rasional dan tepat sasaran. Dengan ini menjelaskan bahwa perlunya meningkatkan. keterlibatan perempuan dalam proses politik sebagai pemilih di pemilihan umum, pembuat kebijakan, memberikan perspektif yang berbeda tentang isu lingkungan, ekonomi, kesehatan, pendidikan, keluarga, khususnya perspektif tentang perempuan. Realita saat ini adanya ketidakseimbangan peluang yang diberikan kepada perempuan dan laki-laki dalam lingkungan sosial, hal ini salah satunya hanya ada 30% kuota perempuan di ranah politik. Padahal perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki dalam memimpin dan berperan dalam ranah politik. Banyak yang menghubungkan antara kemampuan memimpin dengan biologis pada individu. Padahal kemampuan memimpin individu tidak berhubungan dengan keadaan biologis yang dirinya miliki
Aspek emosi dan pikiran perempuan bukan dilihat sebagai kelemahan, tetapi menjadi peluang untuk membuat sebuah kebijakan yang dapat memberikan kesejahteraan secara adil dan menyeluruh. Kritik terhadap organisasi ataupun pemerintah yang belum dapat memberikan ruang untuk perempuan dalam mengekspresikan dirinya sebagai individu yang dapat berperan penting dalam mencapai tujuan, agar dapat merekonstruksi pemikiran tersebut dan kemudian meregulasi kebijakan yang dapat meningkatkan peran perempuan dalam ranah politik. pada dasar nya perempuan sebagai representasi dari sektor minoritas dari tatanan masyarakat, selayaknya diberikan ruang dalam sektor elektrolal politik, Dimana dari itu akan memberikan penyamaratakan hak perempuan disektoral public.
Organisasi HMI perlu terus memberikan ruang untuk perempuan dalam mengoptimalisasikan perannya sebagai perempuan yang dapat berperan di berbagai aspek kehidupan. Menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya, dan penggerak dalam pembangunan bangsa Indonesia. Menekankan pada kader HMI untuk pentingnya memiliki perspektif equality terhadap perempuan dan laki-laki.
HMI sebagai organisasi kaderisasi yang membentuk para anggotannya selalu memberikan pelatihan peningkatan kapasitas bagi kadernya dalam bentuk pelatihan.
Dengan demikian, sebagai kader HMI perlu melibatkan seluruh individu laki-laki maupun perempuan dalam kegiatan organisasi, menciptakan ruang-ruang keadilan untuk mengekspresikan dirinya, kemudian menjadikan ruang tersebut sebagai peluang dalam meningkatkan potensi dan kapabilitasnya sebagai individu yang memiliki perspektif yang bijaksana dalam memandang perbedaan serta mampu menjadikan perbedaan tersebut sebagai kekuatan organisasi. (*)