Informasi Seputar Benua Etam

Refleksi Pendidikan Indonesia, Karena Krisis SDM Atau Kurikulum Tidak Efektif

Oleh: Muhammad Kokodi Abrar Aktivis HMI

0 12

Habaretam.com, Yogyakarta – Pendidikan merupakan proses yang dilakukan secara sadar dan terencana dengan tujuan untuk mengembangkan potensi individu. Memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dalam melakukan interaksi di lingkungan sosial. Namun demikian, saat ini banyak terjadi berbagai kasus di ranah pendidikan, dilakukan oleh murid dan bahkan oleh pendidik. Dari tahun 2015-2021, Komnas perempuan menerima 67 laporan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dan 35% kasus tersebut berasal dari kampus atau perguruan tinggi, 16% dari pesantren, dan SMA/SMK 15%. Tidak hanya kekerasan seksual, masalah perundungan atau bullying di sekolah menjadi kasus rutinitas di ranah pendidikan bahkan dapat disebut bahwa pendidikan di Indonesia “Darurat Perundungan”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia tidak aman untuk individu khususnya terhadap anak. Padahal pendidikan diharapkan menjadi tempat aman yang mampu menciptakan dan mengembangkan potensi pada individu, agar individu tersebut dapat optimal menjadi individu yang mampu memberikan manfaat kepada dirinya dan orang-orang di lingkungan sosial

Indonesia perlu merubah kembali sistem, kurikulum, dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang terlibat dalam seluruh proses pendidikan. Hal ini penting karena pendidikan sebagai dasar pembangunan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berdaya dalam berbagai aspek kehidupan bernegara dan berbangsa. Adanya permasalahan yang terjadi di ranah pendidikan menunjukkan bahwa di pendidikan tidak hanya meningkatkan aspek ilmu eksakta, namun juga perlu meningkatkan pada aspek psikologis yaitu kecerdasan emosi dan sosial pada individu. Karena dari penjelasan Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence, menjelaskan bahwa individu penting memiliki kecerdasan emosi, adanya kecerdasan emosi individu tersebut dapat memiliki perilaku yang adaptif seperti peduli kepada orang-orang di lingkungan sekitar, dan mampu mengaktualisasikan dirinya secara maksimal. Hal yang pertama yang perlu dilakukan yaitu pengetahuan dan kesadaran bahwa pendidikan di Indonesia darurat krisis moral, sehingga perlu segera menciptakan sebuah upaya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Kedua, memperbaiki kurikulum pendidikan yang adaptif dan mampu menyesuaikan kebutuhan pada tumbuh kembang anak secara psikologis, memenuhi kebutuhan anak, dan mampu mencegah perilaku yang kurang adaptif yang mungkin akan terjadi di tahap perkembangan individu. Ketiga, meningkatkan sumber daya manusia (SDM) seluruh pendidik seperti guru dan dosen, dan siapapun yang berperan dalam seluruh proses pendidikan, misalnya adanya pelatihan tentang komunikasi asertif terhadap anak, pengetahuan tentang pertumbuhan anak, membuat kelas, suasana, dan lingkungan yang aman dan nyaman, serta menyediakan fasilitas pendidikan secara berkeadilan yaitu dengan menyediakan pendidikan berkualitas dengan kurikulum yang matang, SDM yang berkualitas, dan akses yang mudah di seluruh wilayah Indonesia. Upaya-upaya tersebut dapat menciptakan pendidikan yang berkualitas, berkeadilan, dan inklusif.

Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam yang memiliki kemampuan Critical thinking, perlu mengamati lalu menganalisis berbagai isu pendidikan, dan ikut serta berperan aktif dalam membangun pendidikan yang berkualitas. Dengan memberikan gagasan atau ide tentang isu-isu pendidikan, lalu memetakan apa saja hambatan dan tantangan yang perlu diatasi, serta apa saja peluang yang perlu dioptimalkan. Serta bagaimana strategi yang perlu dilakukan agar dapat menciptakan pendidikan berkualitas secara optimal, mampu membentuk generasi Indonesia yang memiliki fulfilment personality yaitu kepribadian yang selaras dengan pikiran, perasaan, dan perilaku. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.