Informasi Seputar Benua Etam

Makanan Wajib Habis dalam Empat Jam, Dinkes Kaltim Kawal Pasokan Pengadaan MBG

0 12

Habaretam.com, Samarinda – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah. Namun keberhasilan program ini sangat dipengaruhi oleh kualitas pengelolaan pangan yang disediakan. Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim menekankan, makanan yang tidak dikonsumsi tepat waktu justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Kepala Diskes Kaltim, Jaya Mualimin, menjelaskan bahwa jenis makanan berkuah maupun berbahan basah memiliki daya tahan terbatas. Bila dibiarkan terlalu lama, kualitasnya cepat menurun.

“Umumnya makanan harus sudah habis dalam kurun waktu empat jam. Jika lewat dari itu, risiko pertumbuhan bakteri meningkat dan bisa menimbulkan penyakit,” terang Jaya, Selasa (30/9/2025).

Bukan tanpa dasar. Ia mencontohkan kasus di Samarinda, ketika sejumlah siswa mengeluhkan sakit perut setelah menyantap makanan MBG yang sempat dibiarkan hingga setelah Salat Jumat.

“Karena makanan sudah tidak segar lagi, efeknya jadi tidak nyaman di lambung,” ujarnya.

Untuk mencegah kejadian serupa, Diskes Kaltim kini menerapkan pengawasan berlapis. Penjamah makanan diberikan pelatihan mulai dari pemilihan bahan, teknik pengolahan, hingga cara distribusi yang benar. Setiap dapur penyedia juga diwajibkan menyerahkan sampel menu sebelum dibagikan ke sekolah.

Selain itu, layanan kesehatan di tingkat pertama disiagakan untuk mengantisipasi dugaan keracunan. Puskesmas diposisikan sebagai garda terdepan, sementara rumah sakit disiapkan sebagai rujukan apabila kasus meningkat hingga masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).

“Setiap minggu kami juga menerima laporan rutin dari puskesmas, termasuk potensi KLB seperti keracunan makanan,” tambahnya.

Diskes juga menyoroti risiko alergi yang bisa muncul meski sifatnya individual. Menurut Jaya, alergi berbeda dengan makanan basi yang berisiko bagi semua orang.

Dari sisi pasokan, pemerintah memastikan pemanfaatan bahan pangan lokal seperti telur, sayuran, hingga ikan gabus (haruan). Langkah ini tidak hanya menjamin kandungan gizi lebih baik, tetapi sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat sekitar.

Bekerja sama dengan Dinas Pangan, Diskes memperkuat rantai distribusi agar bahan pangan terjaga dari aspek sanitasi, cara penyimpanan, hingga kualitas gizi yang dihasilkan.

“Keselamatan pangan adalah prioritas utama. Jangan sampai niat baik untuk meningkatkan gizi anak justru terganggu oleh kelalaian dalam pengelolaan makanan,” jelas Jaya.

Berkaca dari kejadian makanan berulat di SMA Negeri 3 Samarinda, agaknya pasokan bahan memang harus diberi perhatian lebih.

Kepala SMAN 13 Samarinda, Jarnuji Umar mengatakan MBG yang didistribusikan do Sekolahnya sempat bermasalah karena terdapat ulat yang ada dimakanan siswa. Namun Ia menyebut ulat yang di makanan saat itu merupakan ulat yang keluar dari sayur, bukan karena makanan tersebut basi.

“Ulat sayur Mas, dia keluar dari sayurnya, karena cuma 1 ompreng yang bermasalah, yang lain aman,” terang Jarnuji. (Ain)

Leave A Reply

Your email address will not be published.