Habaretam.com, Samarinda – Warga RT 035, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda merasa terganggu dengan kegiatan pembuangan limbah di kawasan mereka yang mencemari sumber perairan utama untuk ladang, Kolam dan beberapa rumah.
Salah satunya Arbani, Petani sayur yang merasakan langsung dampaknya mengatakan kegiatan pembuangan limbah yang berada diatas gunung samping jalan poros itu telah berlangsung sejak Mei 2025.
“Terjadi sejak bulan Mei Pak, kami jadi sulit menggunakan sumber utama pengairan kami,” sebutnya saat ditemui ladang, Minggu (28/9/2025).
Arbani menjelaskan dampak yang dihasilkan dari kegiatan pembuangan limbah itu ialah air dari sumber pengairan mereka menjadi baracun saat terkontaminasi dengan air dari pembuangan limbah tersebut, akibatnya, Petani tidak bisa menggunakannya untum menyiram tanaman.
Lebih lanjut, Arbani berujar saat hujan turun keadaan air akan menjadi semakin parah, perlu waktu empat hingga lima hari agar airnya dapat digunakan kembali.
“Jangankan nyiram pak, nyemprot yang dicampur racun itu pun nda bisa juga, bisa mati tanaman,” sebut Arbani.
Senada, Tukiyono yang juga petani sayur mengatakan banyak Tanaman terong miliknya yang mati akibat menyiram menggunakan air yang terkontaminasi ini.
“Sayang sekali, padahal sudah mulai berbuah,” jelasnya sembari menandur tanah.
Tukiyono berkata, bukan hanya ladang yang terkena dampak, kolam ikan dan rumah tangga juga menerima imbas negatif dari kegiatan pembuangan limbah tersebut.
“Kolam Ikan di depan banyak mati ikannya, ada juga warga yang kena penyakit kulit,” papar Tukiyono.
Tukiyono menyebut Ia dan Arbani serta warga sekitar telah melaporkan kejadian ini pada pihak RT, namun kegiatan pembuangan limbah tersebut nyatanya tetap masih berjalan hingga saat ini.
“Cuma dijanji aja dari pihak RT untuk ditindak lanjuti, tapi belum juga ini,” jelas Tukiyono.
Kini Tukiyono dan Arbani bersama petani lain berharap kebijakan yang baik dapat hadir dalam permasalahan ini, agar mereka dapat bertani dengan nyaman kembali dan mengandalkan sektor pengairan utama mereka kembali tanpa takut tanaman mereka mati saat menggunakannya.
“Semua ladang, Kolam dan bahkan rumah tergantung sekali dengan sumber pengairan kami ini, kalau tidak bisa digunakan, kami susah dapat airnya,” tutup Tukiyono dan Arbani.